Dalam menghadapi pandemi penyakit pernafasan akibat Covid-19 ini, banyak orang hanya berharap vaksin virus ini bisa segera ditemukan dan diproduksi secara luas.

Namun sampai tulisan ini dimuat, dunia medis masih terus berlomba-lomba menemukan dan mengujicoba vaksin untuk SARS-Cov-2. Dan setelah itu masih memerlukan waktu panjang untuk memproduksi vaksin tersebut.

Ketika vaksin tersedia juga akan pertama-tama diprioritaskan untuk kalangan pekerja kesehatan dan pejabat pelayan publik yang rentan terjangkit virus ini.

APAKAH VAKSIN BENAR-BENAR AKAN TERSEDIA?

Tetapi timbul pertanyaan, apakah vaksin akan jadi jawaban bagi pandemi COVID-19 ? Masalahnya jika kita melihat ke belakang, sejarah dari pandemi virus corona yang muncul pertama di 2002 hingga kini belum ditemukan vaksinnya yang terbukti efektif.

Mengutip pernyataan di situs Mount Sinai Hospital – New York : “There Was No Vaccine For SARS Or MERS. Will There Be One For The New Coronavirus?” – Tujuh belas tahun setelah wabah sindrom pernafasan akut (SARS-2002/2003) yang parah dan tujuh tahun sejak kasus pertama sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-2012), masih belum ada vaksin virus Corona, meski sudah puluhan berupaya untuk mengembangkannya. Sehingga patut dipertanyakan, apakah akan ada vaksin untuk Covid-19 ?

Virus SARS-Cov-1 yang mengakibatkan pandemi SARS tahun 2002-2003, adalah keluarga SARS-CoV-2, yang memiliki RNA genom 80% identik. Begitu pula pandemi MERS 2012 diakibatkan oleh virus dari keluarga Coronaviridae, bahkan masih satu genus dalam kelompok Betacorona.

VIRUS-VIRUS YANG DATANG DAN PERGI

Dua vaksin SARS telah dievaluasi pada manusia, dan sejumlah kandidat yang menjanjikan diuji dalam studi pra-klinis, tetapi tidak dikerjakan lebih lanjut karena SARS tiba-tiba lenyap dan tidak muncul kembali sejak 2004.

Sementara penyakit flu Arab (MERS) masih muncul secara sporadis di Timur Tengah. Kasus terakhir yang dilaporkan ke WHO, terjadi di Doha – Qatar, Desember 2019.

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang disetujui sebagaiyang efektif untuk mengendalikan SARS maupun MERS. Kedua wabah ini tidak berakhir karena vaksin, tetapi karena mereka yang terpapar diisolasi secara ketat.

Flu musiman adalah contoh wabah yang terus muncul dari tahun ke tahun. Vaksin yang dikatakan untuk flu musiman telah ada dipasaran, namun kenyataannya flu musiman masih terus merebak dari tahun ke tahun.

CDC, lembaga yang berwenang dalam pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika Serikat menjelaskan dalam situsnya bahwa “vaksin flu musiman tidak melindungi dari virus influenza C atau D. Selain itu, vaksin flu TIDAK akan melindungi dari infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh virus lain yang juga dapat menyebabkan gejala serupa influenza”.

Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa jika vaksin Covid-19 nanti berhasil diproduksi, dan seseorang menerima vaksin virus SARS-CoV-2, tidak otomatis akan membebaskan orang tersebut dari ancaman virus lain yang memiliki gejala serupa Covid-19. Karena suatu vaksin hanya efektif untuk menangkal suatu virus tertentu.

MENGHADAPI YANG AKAN DATANG  

Melihat semua kenyataan di atas, tidak menutup kemungkinan kasus wabah Covid-19 jalan ceritanya seperti wabah flu tahunan atau wabah SARS atau MERS. Virus ini datang lalu sebelum vaksin penyakit itu ditemukan atau dipakai secara meluas, pandemi itu sudah lebih dahulu berhenti. Tetapi kemudian sewaktu-waktu merebak lagi secara sporadis.

Atau sebelum vaksin dipakai merata, sudah muncul lagi strain virus corona baru yang lebih berbahaya dan vaksin yang diproduksi tidak lagi efektif untuk menghadapi pandemi akibat strain virus yang baru.   

Jika demikian yang terjadi, suka tidak suka kita harus sadar bahwa ke depan kita harus selalu siap untuk menghadapi kemungkinan pandemi lain. Dan mencari solusi lain sebagai tambahan, bukan hanya bergantung pada solusi dari vaksin. Kita memerlukan semacam payung untuk menghadapi hujan, kita harus mencari suatu medium untuk menghadapi pandemi.

RAMUAN MINYAK ATSIRI MELAWAN VIRUS PERNAFASAN

Medium ini harus bersifat umum untuk menghadapi berbagai infeksi virus, dan juga terjangkau bagi orang banyak. Salah satu medium pencegahan yang potensial dikembangkan penelitiannya adalah senyawa-senyawa aromatik alami dalam minyak atsiri.

Beberapa campuran minyak atsiri telah terbukti secara in vitro untuk pencegahan dan penyembuhan flu musiman, influenza bahkan virus corona dari pandemi SARS 2002-2003. Bahkan beberapa testimoni awam menyebutkan perawatan dengan minyak Eukaliptus telah menolong mereka yang baru terpapar virus SARS-Cov-2 dan mengalami kesembuhan.

Pandemi berikutnya mungkin tidak dapat dicegah akan terjadi juga. Seperti pada musimnya hujan pasti akan turun juga. Tetapi jika disediakan jas hujan atau payung, orang akan dapat tetap beraktvitas di saat hujan sekalipun.

Minyak Atsiri yang diformulasikan secara tepat bisa menjadi jawaban atas kebutuhan obat anti-SARS-Cov2 bahkan versi yang lebih baru di masa depan. Umat manusia akhirnya harus bisa menghadapi pandemi sejenis Covid-19 atau yang lebih parah di masa mendatang.

referensi:
https://www.sciencedaily.com/releases/2020/05/200514115834.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/2002%E2%80%932004_SARS_outbreak https://www.cdc.gov/flu/about/viruses/types.htm
https://www.mountsinai.org/about/newsroom/2020/itn-there-was-no-vaccine-for-sars-or-mers-will-there-be-one-for-the-new-coronavirus-josephine-ma-and-simone-mccarthy